Sunday, 30 April 2017

MENGENAL WARAQAH BIN NAUFAL, NASRANI PERTAMA YANG MENGAKUI KENABIAN MUHAMMAD ﷺ

Adalah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, bukanlah termasuk sahabat Nabi dan bukan  pula pemeluk Islam, tetapi bisa ia telah "membenarkan" Islam dan keNabian Muhammad sebelum agama Islam didakwahkan secara "resmi" oleh Rasulullah. 



Waraqah masih saudara sepupu Khadijah, istri kecintaan Nabi MUHAMMAD, putra dari salah seorang paman Khadijah, Asad bin Abdul Uzza. Dia termasuk dari sedikit orang Arab yang orang yang beragama Nashrani, bahkan punya keahlian menulis buku dalam bahasa Ibrani, termasuk menulis (menyalin) Injil. Waraqah berperan penting menentramkan Nabi MUHAMMAD ketika beliau pertama kali memperoleh wahyu.

Beberapa tahun sebelum berusia 40 tahun, Nabi MUHAMMAD sering mengasingkan diri ke Gua Hira untuk merenungkan berbagai macam hal, termasuk hal-hal yang tersembunyi di balik kenyataan. Beliau membawa bekal secukupnya, yang biasanya cukup untuk satu bulan di dalam gua Hira. Setelah bekalnya habis, beliau kembali ke rumah di Makkah. Setelah beberapa hari di rumah, beliau kembali lagi ke Gua Hira meneruskan "uzlah" dan perenungan beliau.

Setelah genap berusia 40 tahun (dalam hitungan qomariah/hijriah), beliau memperoleh impian yang mirip dengan suasana fajar menyingsing di waktu subuh. Mimpi yang mirip seperti itu berulang-ulang datang selama enam bulan, sampai akhirnya beliau didatangi Malaikat Jibril menyampaikan wahyu yang pertama, al Iqra', yakni surat al Alaq ayat 1-5.

Suatu malam ketika di gua Hira, ketika itu hari senin tanggal 21 Ramadhan (sebagian pendapat menyatakan  tanggal 17, 18 atau 7 Ramadhan), Muhammad didatangi sosok, yang kemudian dikenali sebagai Malaikat Jibril, yang berkata kepada beliau

"Bacalah"

Beliau gemetar melihat kehadiran sosok Malaikat Jibril yang tidak/belum dikenalinya ini, dan berkata, 

"Saya tidak bisa membaca!!".

Malaikat Jibril memegang dan mendekap Muhammad hingga beliau merasa sesak. Kemudian melepaskannya lagi dan berkata, 

"Bacalah!!".

Muhammad berkata lagi, 

"Saya tidak bisa membaca…!!"

Sekali lagi Malaikat Jibril mendekap beliau hingga beliau merasa sesak, kemudian melepaskannya dan berkata, 

"Iqra' bismi rabbikalladzii kholaq, kholaqol insaana min alaq, Iqra' wa rabbukal akram, alladzii 'allama bil qolam, 'allamal insaana maa lam ya'lam." (QS al Alaq 1-5).

Artinya lebih kurang sebagai berikut:
Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang telah menciptakan; Dia menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah; Yang mengajar dengan perantaraan kalam (pena); Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Itulah wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad lewat Malaikat Jibril. Beliau mengulang kalimat-kalimat wahyu tersebut dengan lancar, walaupun dengan hati yang gemetar, kemudian Malaikat Jibril berlalu (menghilang). Beliau segera turun dari Gua Hira dan pulang ke Makkah. Badan beliau menggigil seperti orang yang terkena penyakit demam. Setelah bertemu istri beliau, Khadijah, beliau berkata, 

"Selimutilah aku, Selimutilah aku!!"

Khadijah menyelimuti beliau, dan setelah mulai tenang, beliau berkata,

"Apa yang terjadi denganku?"

Kemudian beliau menceritakan semua peristiwa yang beliau alami di dalam Gua Hira malam itu, dan menutupnya dengan berkata, 

"Sesungguhnya aku mengkhawatirkan keadaan diriku sendiri..!!"

Khadijah dengan bijak berkata, 

"Tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinakan dirimu selamanya, karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, ikut membawakan dan meringankan beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu dan menolong orang yang menegakkan kebenaran…!!"

Beberapa waktu/tahun sebelum pernikahannya dengan Muhammad (saat itu Muhammad belum menjadi Nabi),  Khadijah pernah bermimpi, matahari turun dari langit ke atas Kota Makkah, kemudian matahari itu meluncur masuk ke rumahnya, dan menerangi seluruh penjuru rumahnya, dan juga lingkungan sekelilingnya. Mimpi yang begitu berkesan tersebut diceritakan kepada saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal, dan ia berkata, 

"Sungguh akan turun (datang) seorang nabi dari Kota Makkah, dan engkau (Khadijah) akan menjadi istrinya, dan nabi tersebut akan menyampaikan dakwah dari dalam rumahmu…!!"

Dengan cerita yang disampaikan Nabi Muhammad itu, segera saja Khadijah teringat akan mimpinya belasan tahun  yang lalu. Ia mengajak Nabi Muhammad untuk menemui Waraqah bin Naufal, yang saat itu usianya telah sangat lanjut dan matanya telah buta. Setelah bertemu, Khadijah berkata,

"Wahai anak pamanku, dengarkanlah cerita dari anak saudaramu ini (yakni Muhammad)!!"

Waraqah berkata kepada Muhammad,

"Apa yang telah engkau lihat, wahai anak saudaraku??"

Nabi Muhammad menceritakan secara detail pengalaman beliau ketika didatangi sosok (Malaikat Jibril) di Gua Hira. Mendengar cerita tersebut, Waraqah berkata dengan rona wajah gembira, 

"Itu adalah Namus (yakni, Malaikat Jibril) yang diturunkan Allah kepada Musa!! Andai saja aku masih muda ketika masa itu tiba, andai saja aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu..!!"

Matanya yang telah memutih dan buta tersebut tampak berbinar-binar penuh harapan. Nabi Muhammad berkata, 

"Benarkah mereka akan mengusirku??"

"Benar, tak seorangpun yang membawa seperti apa yang engkau bawa, kecuali dia akan dimusuh", Kata Waraqah.

Matanya yang buta tampak menerawang jauh, kemudian berkata lagi,

"Andai saja aku masih hidup pada masamu nanti (diangkat menjadi Rasul), tentu aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh…!!"

Nabi MUHAMMAD menjadi lebih tenang dengan penjelasan Waraqah bin Naufal. Beberapa waktu (bulan) berselang, wahyu tersebut seakan terputus dan beliau menjadi bimbang. Pada dasarnya, Nabi MUHAMMAD sangat tidak suka dengan penyair dan syair-syairnya. Ketika wahyu pertama tersebut terputus seakan tidak ada kelanjutannya, beliau berfikir jangan-jangan itu sekedar syair semata, sebagaimana syair-syair yang disenandungkan oleh kaum Quraisy, dan hal itu menyebabkan beliau sangat gelisah.

Dalam puncak kegelisahan tersebut, beliau ingin mati saja dengan menerjunkan diri dari puncak gunung yang tinggi. Beliau mendaki sebuah gunung, tetapi belum jauh mendaki, tiba-tiba terdengar suara dari langit,

"Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan aku adalah Jibril…!!"

Beliau mendongakkan kepala ke langit, dan di sanabeliau melihat Jibril dalam rupa seorang lelaki dengan wajah sangat berseri, kedua kakinya menapak di ufuk langit. Sekali lagi Jibril berkata,

"Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan aku adalah Jibril…!!"

Nabi Muhammad hanya terdiam dalam kebingungan, kaki beliau seakan terpaku ke bumi, tidak bisa bergerak maju ataupun mundur. Setiap kali beliau berpaling ke arah langit yang lain, sosok Jibril tersebut telah ada di sanadengan tersenyum kepada beliau. Peristiwa tersebut berlangsung beberapa waktu (jam) lamanya, setelah Malaikat Jibril telah benar-benar lenyap (pergi) dari ufuk langit, barulah beliau bisa menggerakkan kaki dan beliau segera pulang  ke Makkah.

Sementara itu di Makkah, Khadijah merasa kehilangan Nabi Muhammad. Ia telah mengutus beberapa orang untuk mencari keberadaan beliau di Makkah dan sekitarnya tetapi mereka tidak bisa menemukan beliau. Setelah para pencari tersebut pulang dengan  tangan hampa dan kembali ke rumahnya masing-masing, barulah Nabi Muhammad sampai di rumah, dan beliau langsung duduk di paha Khadijah dan bersandar kepada istrinya tercinta tersebut. Khadijah berkata, 

"Darimana saja engkau, wahai Abul Qasim? Sungguh aku telah mengirim beberapa orang untuk mencarimu ke Makkah dan sekitarnya, tetapi mereka pulang dengan tangan hampa…!!"

Nabi Muhammad menceritakan peristiwa yang dialaminya dengan lengkap. Setelah Nabi Muhammad tertidur karena letih, Khadijah segera menemui Waraqah dan menceritakan pengalaman Nabi MUHAMMAD tersebut. Dengan gembira Waraqah berkata, 

"Mahasuci, Mahasuci, demi jiwa Waraqah yang ada di Tangan-Nya, Namus yang besar, yang pernah datang  kepada Musa kini benar-benar telah datang kepadanya (lagi), dia (Muhammad MUHAMMAD) adalah benar-benar nabi umat ini…!! Katakan kepadanya agar ia berteguh hati..!!"

Khadijah segera kembali ke rumah. Setelah Nabi Muhammad bangun dari tidurnya, Khadijah berkata,

"Bergembiralah anak pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi diri Khadijah yang berada di Tangan-Nya, aku benar-benar berharap engaku akan menjadi nabi dari umat ini…!!"

Beberapa waktu kemudian, ketika Nabi Muhammad bertemu langsung dengan Waraqah bin Naufal, beliau menceritakan pengalaman beliau tersebut, dan sekali lagi Waraqah berkata dengan gembira, 

"Demi diri Waraqah yang ada di Tangan-Nya, engkau adalah benar-benar nabi umat ini. Namus yang besar  telah datang kepadamu, sebagaimana ia pernah datang kepada Musa…!!"

Sayangnya, sebelum turunnya wahyu kedua, Surat al Muddatstsir ayat 1-7, yang memerintahkan Nabi Muhammad untuk mulai mendakwahkan agama baru, Risalah Islamiyah, Waraqah bin Naufal telah berpulang ke rahmatullah.

Wafatlah seorang yang beriman dengan kerasulan Muhammad. Seorang yang teguh dengan ajaran yang hanif, ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa ‘alaihissalam. Karena itu, Rasulullah bersabda,

 “Jangan kalian cela Waraqah bin Naufal. Sesungguhnya aku melihat memiliki satu atau du ataman (di surga).”  (HR. al-Hakim 4211. Ia mengatakan hadits shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim walaupun tidak diriwayatkannya. Al-Albani dalam as-Silsilatu ash-Shahihah 405).

Rasulullah bersedih dengan wafatnya Waraqah. Dialah yang memberinya kekuatan dan keyakinan tentang datangnya risalah. Semoga Allah meridhai dan merahmati Waraqah bin Naufal.

Sungguh tidaklah salah bila kita katakan, Waraqah telah membenarkan dan menjadi Islam sebelum agama Islam itu sendiri didakwahkan.

Wallahu A'lam
Baca selengkapnya

Friday, 28 April 2017

NIAT PUASA RAMADHAN YANG BANYAK TIDAK DIKETAHUI

Seringkali kita berpuasa tanpa niat sebelumnya pada permulaan puasa. Apakah niat merupakan syarat puasa yang harus di lakukan setiap hari?, Ataukah cukup dengan hanya berniat pada awal bulan?.

Puasa dan amal-amal ibadah lainnnya harus dikerjakan dengan niat. Rasulullah shollallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya amal-amal ibadah itu bergantung kepada niat. Setiap orang akan mendapatkan ganjaran berdasarkan atas apa yang dia niatkan. “(HR. Imam Al-Bukhari (1/2) dari hadits Umar bin Khatthab).

Dalam riwayat lain disebutkan : “Tidak ada amalan kecuali dengan niat. “ [Lafadz seperti ini diriwayatkan dari Ali Bin Abi Thalib, seperti yang di sebutkan dalam Al-Firdaus bin Ma’tsuril Khithob (5/191)].

Jadi sangatlah jelas bahwa berniat sebelum melakukan ibadah puasa adalah sebuah keharusan. Demikian pula dengan puasa bulan Romadhan wajib dilakukan dengan berniat pada malam harinya, yaitu seseorang harus telah berniat puasa untuk hari itu sebelum terbit fajar. Bangunnya seseorang pada akhir malam kemudian makan sahur menunjukkan telah ada niat pada dirinya (untuk berpuasa). Seseorang tidaklah di tuntut melafadzkan niatnya dengan berucap : “Aku berniat puasa (hari ini)”, karena yang seperti ini tidak pernah dilakukan oleh Rasulullah. CUKUP NIATKAN DALAM HATI bahwa besok kita akan berpuasa.

Berniat puasa selama bulam Ramadhan haruslah dilakukan setiap hari, karena (puasa pada) tiap-tiap hari (dibulan itu) adalah ibadah yang berdiri sendiri yang membutuhkan niat. Jadi, orang yang berpuasa harus berniat dalam hatinya pada masing-masing hari (dalam bulan itu) sejak malam harinya. Kalau misalnya dia telah berniat puasa pada malam harinya kemudian dia tertidur pulas hingga baru terbangun setelah terbitnya fajar, maka puasanya sah, karena dia telah berniat sebelumnya.

Wallahu a’lam.
Baca selengkapnya

Friday, 24 March 2017

7 TIPS DARI KOMNAS ANAK UNTUK ATASI PENCULIKAN ANAK


Komnas Anak menyampaikan, ada sejumlah hal yang harus diperhatikan dan dilakukan orangtua pada anaknya untuk mengantisipasi terjadinya penculikan terhadap anak. Apalagi, saat ini marak isu soal penculikan anak.

Ketua Komnas Anak Arist Merdeka Sirait mengatakan, pihaknya merasa perlu untuk memberikan tips kepada orangtua untuk mencegah terjadinya penculikan. 

Pertama, yang harus dilakukan dengan menanamkan sikap waspada sejak usia dini kepada anak-anaknya. "Ajak anak untuk skeptis dan kritis terhadap orang lain. Beri pemahaman pada anak, bahaya bisa saja terjadi di lingkungan sekitarnya," ujarnya pada wartawan di Jakarta Timur, Jumat (24/3/2017).

Kedua anak juga harus diajarkan untuk menghapal identitas diri, seperti nama panjangnya, nama lengkap ayah ibunya, hingga alamat rumahnya. 

Ketiga ajarkan juga pada anak agar dapat menghapal nomor telepon rumah, nomor telepon keluarga, dan juga anggota keluarga lainnya. "Orang tua harus berani mengatakan tidak pada pemberian, ajakan, atau bujuk rayu orang lain yang tak dia kenali," tuturnya.

Keempat anak juga perlu diajarkan agar tak langsung percaya pada orang yang tak dikenal, apalagi yang mengaku sebagai suruhan ayah, ibu, atau keluarga lainnya. "Dalam lingkungan sekolah, ajarkan anak untuk selalu berangkat dan pulang bersama teman-temannya, jangan sampai sendirian," terangnya. 

Kelima orang tua diharapkan dapat membekali anak jika dalam kondisi darurat atau dibawah ancaman penculikan, seperti diajarkan berteriak, menggigit, menendang, berlari sambil meminta pertolongan dalam keadaan bahaya. Orang tua pun sebisa mungkin mendampingi anak kemanapun perginya. Jika tak bisa, orang tua harus melimpahkan tugas ini pada orang-orang yang bisa dipercaya dengan tetap meningkatkan kewaspadaan.

Keenam Orang tua harus mengajarkan keterbukaan pada anak. Ajak anak untuk dapat menceritakan bagaimana lingkungan sekolahnya atau kondisi tempatnya bermain. Orang tua harus menjalin komunikasi dengan tempat sekolah anak untuk menghindari penculik menjalankan aksinya dengan berpura-pura menjemput anak. "Jangan biarkan anak-anak lepas dari kontrol orang tua. Itu yang paling penting," paparnya.

Terakhir orang tua diharuskan pula untuk selalu waspada dan mengawasi orang-orang yang berada di sekeliling anak, seperti pedagang keliling, pengemis atau orang lainnya yang tak dikenal. "Jika menemukan orang yang dianggap mencurigakan segera laporkan ke otoritas yang berwajib, seperti kepolisian, RT, RW atau lainnya. Jangan main hakim sendiri," katanya. 

Baca selengkapnya

Friday, 17 March 2017

KUNJUNGI KELUARGA NENEK HINDUN, AHOK DAPATKAN FAKTA INI

Cagub DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) secara mendadak mendatangi rumah almarhumah Nenek Hindun. Apa saja fakta seputar pengurusan jenazah nenek hindun yang tidak diungkap media?






















Ahok datang sekitar pukul 09.15 WIB, Senin (13/3/2017), dengan mengenakan kemeja putih bergaris biru. Sebelum masuk ke gang sempit rumah kediaman almarhum Nenek Hindun, Ahok sempat berbincang sejenak dengan warga.

Pertemuan antara Ahok dan pihak keluarga Nenek Hindun sendiri dilangsungkan secara tertutup. Media hanya diberi waktu sebentar untuk mengabadikan kedatangan Ahok di rumah tersebut. Kedatangan Ahok bertujuan untuk menghibur keluarga almarhumah nenek hindun. Pendukung Ahok yang ketika meninggal dikabarkan tidak diurus jenazahnya oleh masyarakat karena mendukung Ahok. Terlihat Ahok duduk bersila dan berbincang dengan anggota keluarga Nenek Hindun. Berikut adalah informasi yang diperoleh Ahok ketika ngobrol dengan keluarga nenek hindun dan masyarakat setempat.

Almarhumah disholatkan pengurus musalla
Sebelumnya, Sunengsih (46), putri Hindun, menuturkan ibunya meninggal pada Selasa (7/3) lalu. Dia menuturkan, setelah memandikan jenazah di rumah, Sunengsih lalu menghubungi pengurus Musala Al-Mu'minun, yang berada di dekat rumahnya.

"Saya ngomong ke Ustaz Syafi'i (pengurus musala, red), 'Pak Ustaz, ini ibu saya minta disalatkan di musala bisa nggak?' Pak Ustaz langsung jawab, 'Nggak usah, Neng, percuma. Udah di rumah aja. Entar saya pimpin'. Memang benar sih dia pimpin, saya bilang, 'Ya udah'," tutur Sunengsih saat ditemui di rumahnya, Jl Kramat Raya 2 Gang CC RT 9 RW 5, Kelurahan Karet, Setiabudi, Jakarta Selatan, Sabtu (11/3).

Meski menerima jenazah ibunya disalatkan di rumah, Sunengsih menyimpan penyesalan karena tak bisa memenuhi keinginan ibunya disalatkan di musala. Terlebih setelah muncul isu Musala Al-Mu'minun memang menolak mensalatkan jenazah pendukung dan pembela penista agama.

Dua hari setelah jenazah Hindun dimakamkan, cerita Sunengsih ini mengalir dari mulut ke mulut hingga sampai ke telinga lurah dan camat. Lurah dan camat sampai datang ke rumah Sunengsih, yang kemudian mengadukan kabar soal penolakan menyalatkan jenazah di Musala Al-Mu'minun.

Jenazah Nenek Hindun Diurus Warga & Penurus Mushalla
Namun tetangga Sunengsih, Syamsul Bahri, menuturkan cerita berbeda. Dia mengatakan warga membantu mengurus jenazah Hindun. Warga juga datang untuk melayat.

"Waktu itu saya baru pulang dari kantor, berita duka terdengar di musala-musala RW 5. Itu pergerakan secara otomatis, kalau warga RW 5 itu untuk berita duka cepet gotong royongnya. Saya bersama pengurus masjid, Ustaz Syafi'i, langsung ambil pemandian mayat di masjid lainnya, kita dorong, kita siapkan, kita hubungin pemandi mayat," tutur Syamsul.

Ambulan Anies-Sandy Hantarkan Jenazah Nenek Hindun
"Pemandi mayat orang PKS, tapi mereka nggak lihat pilihan, yang mandiin, papan, sampai ambulans mereka menghubungi Golkar dan PDIP itu nggak ada, lagi penuh. Akhirnya dari timses Gerindra. Dari RW punya inisiatif untuk memanggil ambulans. Akhirnya datang, ambulans Anies-Sandi. Itu kan tidak melihat perbedaan, tetap dukung, karena itu kan warga kita," sambungnya.

Tidak dishalatkan di Mushalla Karena Situasi Yang Tidak Memungkinkan
Soal jenazah Hindun yang tidak disalatkan di musala, Syamsul memberi penjelasan. Menurut dia, waktunya tak memungkinkan.

"Ustaznya salatin dan warga ikut salatin. Untuk klarifikasi bahwa musala tidak mau mensalati itu salah. Karena waktu yang membuat seperti itu. Kenapa? Meninggal pukul 13.30 WIB. Pemandian jam 17.00 WIB, pemandiannya, rempah-rempahnya itu butuh waktu. Abis dari pemandian selesainya jam 17.30 WIB masuk ke rumah, karena kebetulan rumahnya gangnya sempit. Warga ngelayat langsung pulang, karena kalau tidak langsung pulang, rumahnya penuh," ujar Syamsul.

"Sampai situ mandiin, kafanin, doain, keluarga cium itu ada proses waktu. Kira-kira selesainya jam 18.00 WIB kurang. Cuaca waktu itu sudah gelap, mau hujan besar. Kalau kita ke musala lagi, itu akan memakan waktu, jangan sampai ke kuburan itu malam. Akhirnya inisiatif ustaz dan tokoh-tokoh abis mayat ditutup langsung disalatin di situ. Kebetulan kalau di musala jemaah kita belum pada pulang kerja, ada yang berdagang," sambung Syamsul.

"Sampai selesai salatin jam 18.00 WIB lewat, langsung ke ambulans biar nggak kemaleman. Sesudah di ambulans pas perjalanan di Kuningan macet, sampai di Kuningan hujan besar itu jam 18.30 WIB. Sampai selesai jam 19.00 WIB kurang. Ada warga yang ikut, ada yang nggak ikut, karena ada yang punya keperluan, jadi saya klarifikasi warga pada ikut, tokoh-tokoh juga ikut, termasuk Ustaz Piih (Syafi'i, red) dan pengurus musala," sambungnya lagi.

Ketua RT 9 RW 5, Abdurrahman (40), mengamini semua cerita Syamsul Bahri. Dia mengatakan warga ikut membantu mengurus jenazah Hindun. Dia juga menyatakan ikut membantu mengurus surat-menyurat kematian Hindun. Soal salat jenazah, Abdurrahman mengatakan bisa di musala, bisa juga di rumah. Soal salat jenazah di rumah merupakan hal biasa, menyesuaikan dengan kondisi.

"Semua, RW sini, kalau ada kejadian meninggal di rumah, kalau salat bisa di rumah bisa di musala. Almarhumah Bu Hindun di rumah karena waktunya mepet kali ya," tutur Abdurrahman.

Abdurrahman memang tak ikut terlibat langsung dalam mengurus jenazah Hindun. Namun dia ikut membantu mengurus surat-menyurat, termasuk soal sosialisasi di RW. Dia juga ikut membantu pembagian tugas mengurus jenazah. (arh dari berbagai sumber)

Baca selengkapnya

Thursday, 16 March 2017

KETIKA NU TIDAK LAGI "SEGARIS", KEMANA NAHDIYIN "BERLABUH"?



Sekitar 100 kiai muda Nahdlatul Ulama (NU) melalui forum bahtsul masail atau forum diskusi keagamaan memutuskan bahwa seorang Muslim diperbolehkan memilih pemimpin non-Muslim.

"Terpilihnya non-Muslim di dalam kontestasi politik berdasarkan konstitusi adalah sah jika seseorang non-Muslim terpilih sebagai kepala daerah," kata KH Najib Bukhori saat menyampaikan hasil bahtsul masail di Kantor Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Ansor, Jakarta, Minggu (12/3/2017).

Dengan demikian, lanjut Najib, keterpilihannya untuk mengemban amanah kenegaraan adalah juga sah dan mengikat, baik secara konstitusi maupun secara agama. 

Sejak Sabtu (11/3/2017) hingga Minggu, kiai muda dari berbagai pondok pesantren se-Indonesia itu membahas persoalan kepemimpinan di dalam forum Bahtsul Masail Kiai Muda yang digelar PP GP Ansor dengan tema "Kepemimpinan Non-Muslim di Indonesia". 

Mereka berpendapat dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia dan berdasarkan konstitusi negara, setiap warga negara boleh memilih pemimpin tanpa melihat latar belakang agama yang dianutnya.

"Seorang warga negara, dalam ranah pribadi, dapat memilih atau tidak memilih non-Muslim sebagai pemimpin formal pemerintahan," kata Najib

Ketua Umum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas mengatakan hasil bahtsul masail itu akan disosialisasikan ke daerah-daerah di seluruh Indonesia.

Ia juga menimbau umat Islam di Indonesia untuk meredakan ketegangan pada setiap kontestasi politik karena hal tersebut dapat berpotensi memecah belah umat Islam, sebagaimana terjadi di Jakarta.

Apalagi, kecenderungan intoleransi sesama umat Islam semakin kasat mata dan tergambar dengan adanya spanduk di sejumlah masjid yang tidak menerima pengurusan keagamaan jenazah Muslim bagi pemilih dan pendukung pemimpin non-Muslim, kata Yaqut.

"Akibat kontestasi politik di Jakarta yang makin tidak terkontrol dan cenderung ganas, bukan tidak mungkin dapat menyebar di daerah lain," katanya.

KH Abdul Ghofur Maemun Zubair sebagai perumus bahtsul masail menambahkan, pandangan sebagian kelompok untuk tidak menyalatkan jenazah lawan politik justru merupakan cerminan sikap yang tidak sesuai dengan ajaran Islam maupun nilai-nilai yang dimiliki bangsa Indonesia.

TANGGAPAN TEGAS Rais Aam PBNU

Rais Aam PBNU KH Ma’ruf Amin menegaskan bahwa keputusan tertinggi organisasi ada di hasil Muktamar.

Hal itu ia sampaikan berkaitan dengan adanya keputusan Bahtsul Masail Gerakan Pemuda (GP) Ansor yang menyatakan bahwa boleh memilih pemimpin non-Muslim karena dibolehkan dalam konstitusi dan selagi memberikan maslahat.

"Nahdlatul Ulama memiliki aturan yang harus diikuti sesuai keputusan muktamar. Dalam muktamar sudah jelas dilarang memilih pemimpin non muslim dan harus diikuti oleh seluruh warga nahdiyin," kata KH Ma'ruf Amin saat ditemui di Kantor Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, Jakarta, Selasa (14/03).

Kiai Ma’ruf menjelaskan, dalam Muktamar NU di PP Lirboyo, Kediritahun 1999, diputuskan bahwa tidak boleh memilih atau memberikan kuasa pemimpin kepada non-Muslim, kecuali dalam keadaan darurat.

“Keputusan Bahtsul Masail tidak boleh bertentangan dengan muktamar,” jelasnya.

Ulama panutan yang juga Ketua Umum MUI ini mengungkapkan, keputusan muktamar hanya bisa dirubah dengan muktamar lagi.

Sebelumnya, Ketua GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas merilis hasil Halaqah Bahtsul Masail Kiai Muda GP Ansor tentang kepemimpinan non-Muslim. Dalam keputusan di Jakarta itu, GP Ansor membolehkan umat Islam untuk memilih pemimpin non-Muslim.

Ada apa dengan Nahdatul Ulama?. Pendapat yang tidak"segaris" ini memunculkan kebingungan dikalangan nahdiyin. Pendapat mana yang harus diikutin. Pilkada DKI 2017 ini benar-benar menguji kekuatan Nahdatul Ulama sebagai organisasi terbesar Islam di Indonesia. 
Baca selengkapnya

Wednesday, 15 March 2017

LSI: ANIES-SANDY UNGGULI AHOK-DJAROT


Lingkaran Survei Indonesia pimpinan Denny Januar Ali (LSI Denny JA) hari ini mempublikasikan hasil riset mereka terkait elektabilitas dua pasang calon Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta. Survei digelar sebelum kampanye Pilgub DKI putaran II, yakni pada 27 Februari sampai 3 Maret 2017. 

Survei menggunakan metode multistage random sampling melalui wawancara tatap muka dengan 400 responden. Margin of error dari survei ini adalah 4,8 persen. Hasil survei menunjukkan pasangan Anies Baswedan-Sandiaga Uno unggul atas Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat dalam hal elektabilitas. 

"Untuk sementara, sebelum kampanye, Anies-Sandi dengan angka 49,7 persen, Ahok-Djarot 40,5 persen suara, dan undecided voters ada di angka 9,8 persen," kata peneliti LSI Adjie Alfaraby dalam keterangannya, Selasa (7/3/2017). 


Menurut Adjie, selisih elektabilitas antara Anies dan Ahok masih ketat, yakni 9 persen. Survei LSI Denny JA juga menunjukkan, berdasarkan sentimen agama, pasangan Anies-Sandi unggul di pemilih muslim. Adapun duet Ahok-Djarot menang di pemilih nonmuslim.

Data LSI Denny JA menyebut, dari 79,20 persen responden muslim, sebanyak 55,04 persen memilih Anies-Sandi. Sisanya mendukung Ahok-Djarot. Di kalangan pemilih nonmuslim, yang jumlahnya sekitar 20,80 persen, sebanyak 86,58 persen di antaranya mendukung Ahok-Djarot. 

Berdasarkan latar belakang ekonomi responden, Anies-Sandi unggul di pemilih kelas menengah ke bawah, sementara Ahok-Djarot unggul di kelas menengah ke atas. Di kelas menengah ke atas yang pendapatannya Rp 3,5 juta ke atas, Ahok-Djarot unggul. (news.detik.com)
Baca selengkapnya

Sunday, 5 March 2017

SIDANG PLENO DKI MOLOR, BADJA WALKOUT, ANIES-SANDI RAMAI DITUDUH TELAT, INI JAWABAN KPU DKI

SIDANG PLENO DKI MOLOR, BADJA WALKOUT, ANIES-SANDI RAMAI DITUDUH TELAT, INI JAWABAN KPU DKI

PILKADA DKI tidak kunjung berhenti buat "ramai" Indonesia. Terakhir adalah molornya pelaksanaan Sidang Pleno KPU selama 1 jam 30 menit. Keterlambatan ini direspon oleh Ahok-Djarot dengan melakukan aksi walk out dan tentu saja dengan bumbu marah-marah.

"Sirkus" ini kemudian membuat ramai media sosial. Pendukung Ahok memanfaatkan situasi ini dengan ramai-ramai menyampaikan berita HOAX dimedia sosial baik facebook, tweeter bahkan youtube. Mereka dengan lugas menuduh bahwa molornya Sidang Pleno KPU tersebut disebabkan keterlambatan pasangan Anies-Sandi hadir dilokasi yang sudah ditentukan. Untuk menjawab hal ini mari kita simak klarifikasi dari Ketua KPU DKI.


Ketua KPU DKI menyampaikan bahwa molornya Sidang Pleno disebabkan adanya saling tunggu antara KPU DKI dengan pasangan Ahok-Djarot. Dalam protokoler Sidang Pleno tersebut PASLON sudah disiapkan ruang tunggu khusus sebelum acara dimulai. Anies-Sandi begitu sampai ke lokasi langsung menuju ruang tunggu yang telah disediakan. Berbeda dengan pasangan AHok-Djarot, meski lebih dahulu sampai di lokasi pasangan Ahok-Djarot tidak mengikuti protokoler yang sudah disusun oleh KPU DKI. Pasangan Ahok-Djarot malah menunggu diruangan yang disediakan oleh tim Ahok-Djarot tanpa sepengetahuan KPU DKI.

Inilah yang menyebabkan Sidang Pleno DKI molor hingga 1 jam lebih. PILKADA DKI tahun ini memang penuh dengan "sirkus". Aksi walkout Ahok-Djarot pun kemudian ramai disebut sebagai sebuah tindakan disiplin dari seorang pemimpin. Disisi lain kejadian ini dijadikan "peluru" untuk menyerang Anies-Sandi yang dituduh sebagai penyebab molornya Sidang Pleno KPU DKI.

Lawanhoak mengajak seluruh netizen untuk lebih kritis dalam menerima informasi yang beredar. Agar terhindar dari berita HOAX yang kerap berujung fitnah. (arh)
Baca selengkapnya