Showing posts with label Sejarah. Show all posts
Showing posts with label Sejarah. Show all posts

Sunday, 30 April 2017

MENGENAL WARAQAH BIN NAUFAL, NASRANI PERTAMA YANG MENGAKUI KENABIAN MUHAMMAD ﷺ

Adalah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul Uzza, bukanlah termasuk sahabat Nabi dan bukan  pula pemeluk Islam, tetapi bisa ia telah "membenarkan" Islam dan keNabian Muhammad sebelum agama Islam didakwahkan secara "resmi" oleh Rasulullah. 



Waraqah masih saudara sepupu Khadijah, istri kecintaan Nabi MUHAMMAD, putra dari salah seorang paman Khadijah, Asad bin Abdul Uzza. Dia termasuk dari sedikit orang Arab yang orang yang beragama Nashrani, bahkan punya keahlian menulis buku dalam bahasa Ibrani, termasuk menulis (menyalin) Injil. Waraqah berperan penting menentramkan Nabi MUHAMMAD ketika beliau pertama kali memperoleh wahyu.

Beberapa tahun sebelum berusia 40 tahun, Nabi MUHAMMAD sering mengasingkan diri ke Gua Hira untuk merenungkan berbagai macam hal, termasuk hal-hal yang tersembunyi di balik kenyataan. Beliau membawa bekal secukupnya, yang biasanya cukup untuk satu bulan di dalam gua Hira. Setelah bekalnya habis, beliau kembali ke rumah di Makkah. Setelah beberapa hari di rumah, beliau kembali lagi ke Gua Hira meneruskan "uzlah" dan perenungan beliau.

Setelah genap berusia 40 tahun (dalam hitungan qomariah/hijriah), beliau memperoleh impian yang mirip dengan suasana fajar menyingsing di waktu subuh. Mimpi yang mirip seperti itu berulang-ulang datang selama enam bulan, sampai akhirnya beliau didatangi Malaikat Jibril menyampaikan wahyu yang pertama, al Iqra', yakni surat al Alaq ayat 1-5.

Suatu malam ketika di gua Hira, ketika itu hari senin tanggal 21 Ramadhan (sebagian pendapat menyatakan  tanggal 17, 18 atau 7 Ramadhan), Muhammad didatangi sosok, yang kemudian dikenali sebagai Malaikat Jibril, yang berkata kepada beliau

"Bacalah"

Beliau gemetar melihat kehadiran sosok Malaikat Jibril yang tidak/belum dikenalinya ini, dan berkata, 

"Saya tidak bisa membaca!!".

Malaikat Jibril memegang dan mendekap Muhammad hingga beliau merasa sesak. Kemudian melepaskannya lagi dan berkata, 

"Bacalah!!".

Muhammad berkata lagi, 

"Saya tidak bisa membaca…!!"

Sekali lagi Malaikat Jibril mendekap beliau hingga beliau merasa sesak, kemudian melepaskannya dan berkata, 

"Iqra' bismi rabbikalladzii kholaq, kholaqol insaana min alaq, Iqra' wa rabbukal akram, alladzii 'allama bil qolam, 'allamal insaana maa lam ya'lam." (QS al Alaq 1-5).

Artinya lebih kurang sebagai berikut:
Bacalah dengan nama Tuhanmu Yang telah menciptakan; Dia menciptakan manusia dari segumpal darah; Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Maha Pemurah; Yang mengajar dengan perantaraan kalam (pena); Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.

Itulah wahyu pertama yang diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad lewat Malaikat Jibril. Beliau mengulang kalimat-kalimat wahyu tersebut dengan lancar, walaupun dengan hati yang gemetar, kemudian Malaikat Jibril berlalu (menghilang). Beliau segera turun dari Gua Hira dan pulang ke Makkah. Badan beliau menggigil seperti orang yang terkena penyakit demam. Setelah bertemu istri beliau, Khadijah, beliau berkata, 

"Selimutilah aku, Selimutilah aku!!"

Khadijah menyelimuti beliau, dan setelah mulai tenang, beliau berkata,

"Apa yang terjadi denganku?"

Kemudian beliau menceritakan semua peristiwa yang beliau alami di dalam Gua Hira malam itu, dan menutupnya dengan berkata, 

"Sesungguhnya aku mengkhawatirkan keadaan diriku sendiri..!!"

Khadijah dengan bijak berkata, 

"Tidak, demi Allah, Allah tidak akan menghinakan dirimu selamanya, karena engkau suka menyambung tali persaudaraan, ikut membawakan dan meringankan beban orang lain, memberi makan orang yang miskin, menjamu tamu dan menolong orang yang menegakkan kebenaran…!!"

Beberapa waktu/tahun sebelum pernikahannya dengan Muhammad (saat itu Muhammad belum menjadi Nabi),  Khadijah pernah bermimpi, matahari turun dari langit ke atas Kota Makkah, kemudian matahari itu meluncur masuk ke rumahnya, dan menerangi seluruh penjuru rumahnya, dan juga lingkungan sekelilingnya. Mimpi yang begitu berkesan tersebut diceritakan kepada saudara sepupunya, Waraqah bin Naufal, dan ia berkata, 

"Sungguh akan turun (datang) seorang nabi dari Kota Makkah, dan engkau (Khadijah) akan menjadi istrinya, dan nabi tersebut akan menyampaikan dakwah dari dalam rumahmu…!!"

Dengan cerita yang disampaikan Nabi Muhammad itu, segera saja Khadijah teringat akan mimpinya belasan tahun  yang lalu. Ia mengajak Nabi Muhammad untuk menemui Waraqah bin Naufal, yang saat itu usianya telah sangat lanjut dan matanya telah buta. Setelah bertemu, Khadijah berkata,

"Wahai anak pamanku, dengarkanlah cerita dari anak saudaramu ini (yakni Muhammad)!!"

Waraqah berkata kepada Muhammad,

"Apa yang telah engkau lihat, wahai anak saudaraku??"

Nabi Muhammad menceritakan secara detail pengalaman beliau ketika didatangi sosok (Malaikat Jibril) di Gua Hira. Mendengar cerita tersebut, Waraqah berkata dengan rona wajah gembira, 

"Itu adalah Namus (yakni, Malaikat Jibril) yang diturunkan Allah kepada Musa!! Andai saja aku masih muda ketika masa itu tiba, andai saja aku masih hidup ketika kaummu mengusirmu..!!"

Matanya yang telah memutih dan buta tersebut tampak berbinar-binar penuh harapan. Nabi Muhammad berkata, 

"Benarkah mereka akan mengusirku??"

"Benar, tak seorangpun yang membawa seperti apa yang engkau bawa, kecuali dia akan dimusuh", Kata Waraqah.

Matanya yang buta tampak menerawang jauh, kemudian berkata lagi,

"Andai saja aku masih hidup pada masamu nanti (diangkat menjadi Rasul), tentu aku akan membantumu dengan sungguh-sungguh…!!"

Nabi MUHAMMAD menjadi lebih tenang dengan penjelasan Waraqah bin Naufal. Beberapa waktu (bulan) berselang, wahyu tersebut seakan terputus dan beliau menjadi bimbang. Pada dasarnya, Nabi MUHAMMAD sangat tidak suka dengan penyair dan syair-syairnya. Ketika wahyu pertama tersebut terputus seakan tidak ada kelanjutannya, beliau berfikir jangan-jangan itu sekedar syair semata, sebagaimana syair-syair yang disenandungkan oleh kaum Quraisy, dan hal itu menyebabkan beliau sangat gelisah.

Dalam puncak kegelisahan tersebut, beliau ingin mati saja dengan menerjunkan diri dari puncak gunung yang tinggi. Beliau mendaki sebuah gunung, tetapi belum jauh mendaki, tiba-tiba terdengar suara dari langit,

"Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan aku adalah Jibril…!!"

Beliau mendongakkan kepala ke langit, dan di sanabeliau melihat Jibril dalam rupa seorang lelaki dengan wajah sangat berseri, kedua kakinya menapak di ufuk langit. Sekali lagi Jibril berkata,

"Wahai Muhammad, engkau adalah Rasul Allah, dan aku adalah Jibril…!!"

Nabi Muhammad hanya terdiam dalam kebingungan, kaki beliau seakan terpaku ke bumi, tidak bisa bergerak maju ataupun mundur. Setiap kali beliau berpaling ke arah langit yang lain, sosok Jibril tersebut telah ada di sanadengan tersenyum kepada beliau. Peristiwa tersebut berlangsung beberapa waktu (jam) lamanya, setelah Malaikat Jibril telah benar-benar lenyap (pergi) dari ufuk langit, barulah beliau bisa menggerakkan kaki dan beliau segera pulang  ke Makkah.

Sementara itu di Makkah, Khadijah merasa kehilangan Nabi Muhammad. Ia telah mengutus beberapa orang untuk mencari keberadaan beliau di Makkah dan sekitarnya tetapi mereka tidak bisa menemukan beliau. Setelah para pencari tersebut pulang dengan  tangan hampa dan kembali ke rumahnya masing-masing, barulah Nabi Muhammad sampai di rumah, dan beliau langsung duduk di paha Khadijah dan bersandar kepada istrinya tercinta tersebut. Khadijah berkata, 

"Darimana saja engkau, wahai Abul Qasim? Sungguh aku telah mengirim beberapa orang untuk mencarimu ke Makkah dan sekitarnya, tetapi mereka pulang dengan tangan hampa…!!"

Nabi Muhammad menceritakan peristiwa yang dialaminya dengan lengkap. Setelah Nabi Muhammad tertidur karena letih, Khadijah segera menemui Waraqah dan menceritakan pengalaman Nabi MUHAMMAD tersebut. Dengan gembira Waraqah berkata, 

"Mahasuci, Mahasuci, demi jiwa Waraqah yang ada di Tangan-Nya, Namus yang besar, yang pernah datang  kepada Musa kini benar-benar telah datang kepadanya (lagi), dia (Muhammad MUHAMMAD) adalah benar-benar nabi umat ini…!! Katakan kepadanya agar ia berteguh hati..!!"

Khadijah segera kembali ke rumah. Setelah Nabi Muhammad bangun dari tidurnya, Khadijah berkata,

"Bergembiralah anak pamanku dan teguhkanlah hatimu. Demi diri Khadijah yang berada di Tangan-Nya, aku benar-benar berharap engaku akan menjadi nabi dari umat ini…!!"

Beberapa waktu kemudian, ketika Nabi Muhammad bertemu langsung dengan Waraqah bin Naufal, beliau menceritakan pengalaman beliau tersebut, dan sekali lagi Waraqah berkata dengan gembira, 

"Demi diri Waraqah yang ada di Tangan-Nya, engkau adalah benar-benar nabi umat ini. Namus yang besar  telah datang kepadamu, sebagaimana ia pernah datang kepada Musa…!!"

Sayangnya, sebelum turunnya wahyu kedua, Surat al Muddatstsir ayat 1-7, yang memerintahkan Nabi Muhammad untuk mulai mendakwahkan agama baru, Risalah Islamiyah, Waraqah bin Naufal telah berpulang ke rahmatullah.

Wafatlah seorang yang beriman dengan kerasulan Muhammad. Seorang yang teguh dengan ajaran yang hanif, ajaran tauhid yang dibawa oleh Nabi Musa dan Isa ‘alaihissalam. Karena itu, Rasulullah bersabda,

 “Jangan kalian cela Waraqah bin Naufal. Sesungguhnya aku melihat memiliki satu atau du ataman (di surga).”  (HR. al-Hakim 4211. Ia mengatakan hadits shahih sesuai dengan syarat al-Bukhari dan Muslim walaupun tidak diriwayatkannya. Al-Albani dalam as-Silsilatu ash-Shahihah 405).

Rasulullah bersedih dengan wafatnya Waraqah. Dialah yang memberinya kekuatan dan keyakinan tentang datangnya risalah. Semoga Allah meridhai dan merahmati Waraqah bin Naufal.

Sungguh tidaklah salah bila kita katakan, Waraqah telah membenarkan dan menjadi Islam sebelum agama Islam itu sendiri didakwahkan.

Wallahu A'lam
Baca selengkapnya

Tuesday, 7 February 2017

Siapa Ahmad Lussy, Ulama dan Panglima Asal Maluku??


Ahmad Lussy atau yang populer dengan sebutan PATTIMURA. Ia berasal dari Maluku. Dimana Maluku sendiri berasal dari bahasa Arab Al Mulk atau Al Malik yang berarti Tanah Raja-Raja. Sebab mengingat pada masa itu banyaknya kerajaan Islam.

Namun  saat ini Ahmad lussy lebih dikenal dengan “Thomas Mattulessy” yang identik dengan nama Kristen.  Inilah salah satu contoh deislamisasi dan penghianatan kaum minoritas atas sejarah Jihad Muslim di Maluku.

Puncak kontroversi tentang siapa Pattimura adalah penyebutan Ahmad Lussy dengan nama Thomas Mattulessy, dari nama seorang Muslim menjadi seorang Kristen. Hebatnya, masyarakat lebih percaya kepada predikat Kristen itu, karena Maluku sering diidentikkan dengan Kristen. Namun menurut sejarawan muslim, Ahmad Mansyur Suryanegara tidak sependapat dengan Maluku dan Ambon diidentikkan dengan Kristen.

Penulis buku “Menemukan Sejarah” ini mengatakan, “Kalau dibilang Ambon itu lebih banyak Kristen, lihat saja dari udara (dari pesawat), banyak masjid atau banyak gereja. Kenyataannya, lebih banyak menara masjid daripada gereja.”

Mansyur menambahkan mayoritas kerajaan-kerajaan di Maluku adalah kerajaan Islam. Di antaranya adalah kerajaan Ambon, Herat, dan Jailolo. Begitu banyaknya kerajaan sehingga orang Arab menyebut kawasan ini dengan Jaziratul Muluk (Negeri Raja-raja). Sebutan ini kelak dikenal dengan nama Maluku.

Pattimura Muslim Taat

Menurut sejarawan Ahmad Mansyur Suryanegara, Pattimura adalah seorang Muslim yang taat. Selain keturunan bangsawan, ia juga seorang ulama. Data sejarah menyebutkan bahwa pada masa itu semua pemimpin perang di kawasan Maluku adalah bangsawan atau ulama, atau keduanya. Baca Juga (Cut Nyak Dien, Mujahidah dari Aceh)

Bandingkan dengan buku biografi Pattimura versi pemerintah yang pertama kali terbit. M Sapija menulis, “Bahwa pahlawan Pattimura tergolong turunan bangsawan dan berasal dari Nusa Ina (Seram). Ayah beliau yang bernama Antoni Mattulessy adalah anak dari Kasimiliali Pattimura Mattulessy. Yang terakhir ini adalah putra raja Sahulau. Sahulau bukan nama orang tetapi nama sebuah negeri yang terletak dalam sebuah teluk di Seram Selatan.”

Ada kejanggalan dalam keterangan di atas. Sapija tidak menyebut Sahulau itu adalah kesultanan. Kemudian ada penipuan dengan menambahkan marga Pattimura Mattulessy. Padahal di negeri Sahulau tidak ada marga Pattimura Mattulessy. Di sana hanya ada marga Kasimiliali yang leluhur mereka adalah Sultan Abdurrahman.

Berbeda dengan Sapija, Mansyur Suryanegara berpendapat bahwa Pattimura itu marga yang masih ada sampai sekarang. Dan semua orang yang bermarga Pattimura sekarang ini adalah Muslim. Orang-orang tersebut mengaku ikut agama nenek moyang mereka yaitu Pattimura.

Rekam Perjuangan Pattimura

Sejarah perjuangan rakyat Maluku tidak bisa dianggap remeh. Bahwa perjuangan menaklukkan penjajah melalui perang darat dan laut yang sengit dan penuh heroik oleh Pattimura sang putra Maluku yang dengan semangat yang gigih dan pantang menyerah.

Ada asap tentu saja ada api. Demikian pula adanya pergerakan jihad yang dipimpin Ahmad Lussy ada sebabnya. Pertama, adanya kekhawatiran dan kecemasan rakyat akan timbulnya kembali kekejaman pemerintah seperti yang pernah dilakukan pada masa pemerintahan VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie).

Kedua, Belanda menjalankan praktik-praktik lama yang dijalankan VOC, yaitu monopoli perdagangan dan pelayaran Hongi. Pelayaran Hongi adalah polisi laut yang membabat pertanian hasil bumi yang tidak mau menjual kepada Belanda. Ketiga, Rakyat dibebani berbagai kewajiban berat, seperti kewajiban kerja, penyerahan ikan asin, dendeng, dan kopi.

Akibat penderitaan itu maka rakyat Maluku bangkit mengangkat senjata untuk berjihad melawan penjajah Belanda. Pada tahun 1817, perlawanan itu dikomandani oleh Kapitan Ahmad Lussy. Rakyat berhasil merebut Benteng Duurstede di Saparua yang kemudian menjadi basis pertahanan pasukan Pattimura. Bahkan residennya yang bernama Van den Bergh terbunuh. Perlawanan meluas ke Ambon, Seram, dan tempat-tempat lainnya.



Berulangkali Belanda mengerahkan pasukan untuk menumpas perlawanan rakyat Maluku, tetapi berulangkali pula Belanda mendapat pukulan berat. Karena itu Belanda meminta bantuan dari pasukan yang ada di Batavia. Keadaan jadi berbalik, Belanda semakin kuat dan perlawanan rakyat Maluku terdesak.

Kemudian Ahmad Lussy dan kawan-kawan tertangkap Belanda. Pada tanggal 16 Desember 1817 Ahmad Lussy beserta kawan-kawannya menjalani hukuman mati di tiang gantungan.

Nama Pattimura sampai saat ini tetap harum. Bahkan gambar Pattimura dimasukkan dalam uang pecahan Rp 1.000. Padahal bukan untuk itu tujuan perjuangannya. Seorang muslim berjihad bertujuan untuk menegakkan kalimat Allah dan kalimat kafir tumbang.

Ahmad Lussy sebelum digantung mengatakan “Beta akan mati tetapi akan bangkit Pattimura-Pattimura muda yang akan meneruskan, beta punya perjuangan”. Ini menunjukkan optimisme Pattimura perjuangan itu tidak akan berhenti dengan kematian seorang pemimpin. Akan tetapi senantiasa ada orang-orang yang terus berjihad dalam rangka menegakkan kalimat Allah di muka bumi ini.

Akhirnya Pattimura mati sebagai syuhada di depan Benteng Victoria (sekarang menjadi Markas KODIM 733 Batalyon Masariku). Pattimura dihukum Gantung. Benteng Victoria ini sebagai saksi Sejarah Kegigihan Pattimura dalam mengusir penjajah dari tanah Maluku.


Demikianlah pelurusan sejarah Pattimura yang sebenarnya bernama Kapitan Ahmad Lussy atau Mat Lussy. Ia seorang muslim yang taat bukan seorang Kristen.
Baca selengkapnya

Monday, 6 February 2017

NAMA JAKARTA DIAMBIL DARI AL-QUR'AN

"Oh itu yang disebut-sebut Sunda Kelapa. Gerbang utama perubahan untuk islam nusantara ini wahai sultan. Tempat islam akan tegak. Bukan oleh mereka penguasa lalim. Kan ku rebut untukmu wahai khalifah Allah." 

Api membara mewarnai setiap kata Fatahillah kepada sultannya saat mereka mengamati kota pelabuhan portugis itu. Sunda Kelapa, sebuah kota pelabuhan yang dilewati sungai ciliwung itu sungguh menawan dilihat dari kejauhan. Hari ini sebuah penyerangan besar akan terjadi, gabungan pasukan yang dipimpin satu panglima hebat, Fatahillah.

Sekitar 400 kapal perang berlayar mendekati Sunda Kelapa, bendera perang dikibarkan dan takbir menggema bagaikan kilat membelah langit tua. Cuaca hari itu cerah, bagaikan menyapa pasukan Allah yang bergerak siap membebaskan Sunda kelapa, kota yang akan menjadi lambang kejayaan Islam di nusantara.

Pertempuran dahsyat tak dapat terelakan. namun dengan kepiawaian sang panglima Fatahillah, serta ketangkasan dan keberanian pasukan gabungan, tepat pada 22 Juni 1527 Sunda Kelapa jatuh ke tangan kekhalifahan Islam Nusantara. Nama dari kota Sunda Kelapa pun diubah menjadi Jayakarta yang memliki arti "kemenangan yang nyata" dikutip dari QS.al-Fath ayat 1 yang dalam bahasa arab adalah "fathan mubiinaa". Sampai hari ini kita mengenang kejadian tersebut dengan merayakan hari jadi Kota Jakarta setiap tanggal 22 Juni.

Sudah 489 tahun umur Jakarta semenjak dibebaskan dari penjajah portugis oleh fatahillah dan pasukan muslim. Dari tahun ke tahun semakin sedikit orang yang mengenang perjuangan mereka dan merayakan hari jadi Ibu Kota Jakarta ini. Namun, bukan hal itu yang mengganjal di pikiran saya. Bukan  masalah berapa banyak orang yang menghargai peristiwa ini atau seberapa peduli orang dengan hari jadi Kota Jakarta. Karena hal itu adalah akibat dari sebab yang tidak terpandang. Sebab mengapa orang sudah tidak peduli, karena Kota Jakarta telah kehilangan kejayaannya. Kejayaan Jayakarta telah tersita, oleh zaman, budaya, dan mental penduduknya. Makna Jayakarta telah terdistorsi.
Baca selengkapnya

Sunday, 5 February 2017

Lima Daerah Yang Sulit Ditundukkan Belanda. Nomor 4 Bikin Bangga

Sejak sekolah kita selalu membaca sejarah yang mengatakan bahwa Indonesia dijajah oleh Belanda selama 350 tahun. Namun, secara fakta hal itu tidak pernah terjadi. Indonesia memiliki banyak sekali wilayah dari Sabang dari Merauke. Menyatukan semua wilayah itu sebagai kawasan jajahan harus dilalui Belanda selama 3 abad lebih sebelum akhirnya menguasai secara penuh di 30-an tahun terakhir.

Meski kawasan di pulau Jawa, Sumatra, dan Kalimantan telah dikuasai oleh Belanda. Beberapa daerah seperti Aceh, Nias, Bali hingga Kalimantan Tengah baru dikalahkan Belanda memasuki abad ke-20. Berikut lima daerah terkuat di Indonesia yang susah sekali ditaklukkan oleh Belanda di masa lalu.

1. Aceh (1914)

Belanda baru mampu menguasai kawasan Aceh pada tahun 1912 atau 33 tahun menjelang negeri ini akhirnya menyatakan proklamasi. Belanda sulit sekali masuk dan menguasai Aceh karena wilayah ini memiliki pemimpin yang sangat hebat. kekuatan militer Aceh yang dibantu oleh banyak masyarakat sipil membuat Belanda harus kerja ekstra selama terjadi perang.
Setidaknya selama 41 tahun, Perang Aceh pecah dan membuat Belanda haru mengeluarkan banyak sekali pasukan dan senjata. Aceh baru bisa dikuasai oleh Belanda pada tahun 1914 secara menyeluruh. Pasca perang terjadi, warga di sekitaran Aceh masih melakukan perlawanan secara sporadis hingga Jepang mengambil Alih kekuasaan Belanda di Tanah Air pada tahun 1942.
2. Nias (1914)

Suku Nias adalah salah satu suku yang dikenal dengan budaya bertarungnya. Jauh sebelum Belanda akhirnya masuk dan membuat kekacauan, masyarakat Nias sudah terbiasa berperang. Saat Belanda mulai memasuki kawasan Nias, mereka diserang habis-habisan oleh para petarung dari Nias yang memang selalu waspada dengan pendatang yang mencurigakan.

Sejak Belanda kembali datang di tahun 1825 di Nias, mereka baru bisa menguasai pulau ini secara sempurna pada tahun 1914. Selama 90 tahun, Belanda berjuang dengan sekuat tenaga hingga mengerahkan banyak sekali pasukan untuk membuat masyarakat di Nias keok dan menyerah dengan sepenuhnya.

3. Bali

Belanda baru menguasai wilayah Bali secara utuh pada tahun 1908. Sebelumnya Belanda selalu kesulitan karena mendapatkan perlawanan yang sangat serius dari kerajaan-kerajaan yang ada di Pulau Dewata itu. Semua niat buruk dan curang yang direncanakan oleh Belanda akhirnya diberangus hingga membuat mereka semakin kalang kabut.
erang yang berjalan sejak 1846 baru selesai 62 tahun kemudian. Pasukan dari kerajaan di Bali mulai lemah dan tidak bisa menghadapi serangan dari pasukan Belanda yang jumlahnya sangat besar. Kerajaan-kerajaan di Bali akhirnya menyerah karena tidak memiliki lagi daya untuk melawan Belanda yang kian keji.

4. Tapanuli (1907)

Kawasan Sumatra adalah kawasan paling susah ditembus oleh Belanda di masa penjajahan. Sebelum Belanda akhirnya menaklukkan Aceh di tahun 1914, kawasan Tapanuli yang saat itu masih dikuasai oleh Kerajaan Batak diserang habis-habisan oleh Belanda yang sudah mulai terobsesi menguasai semua kawasan Sumatra secara utuh.
Perang dengan Kerajaan Batak terjadi pada tahun 1878 dan berakhir dengan kekalahan Raja Sisingamangaraja XII di tahun 1907. Setelah raja yang melawan Belanda dengan gagah berani gugur, kawasan Tapanuli dan sekitarnya secara otomatis menjadi daerah kekuasaan Belanda secara resmi.
5. Jambi
Jambi yang saat itu dikuasai oleh Kesultanan Jambi mulai dimasuki Belanda pada tahun 1833. Belanda ingin menguasai kawasan Jambi karena daerah ini kaya akan produksi rempah seperti Lada yang saat itu banyak sekali diekspor ke berbagai wilayah Eropa dengan harga yang cukup mahal.
Berbekal banyaknya pasukan dan juga senjata, Belanda baru mampu menguasai kawasan Jambi setelah 71 tahun. Selama puluhan tahun itu, rakyat Jambi yang dibantu oleh pasukan dari Kerajaan Jambi. Memasuki periode raja Thaha Syaifuddin bin Muhammad, Kesultanan Jambi memasuki masa kehancuran.
sumber: www.bombastis.com
Baca selengkapnya