Showing posts with label Tokoh. Show all posts
Showing posts with label Tokoh. Show all posts

Sunday, 26 February 2017

KISAH CINTA PRABOWO BUMBUI PILKADA DKI

Ada yang menarik seputar Perhelatan Pilgub DKI 2017, rupanya tak hanya soal saling sindir, kecam dan serang antar kandidat dan tim sukses. Pemilihan orang nomor satu di Jakarta ini rupanya juga dibumbui kisah cinta.

Bukan kisah cinta kandidat di Pilgub DKI, tapi Ketum Gerindra Prabowo Subianto dan Politikus Golkar Titiek Soeharto. Romantisme Prabowo dan Titiek kembali terungkap di tengah panasnya kontestasi Pilgub DKI.

Prabowo dan Titiek Soeharto diketahui makan malam bersama pada Rabu (22/2) malam kemarin. Pasangan Cagub DKI Anies Baswedan dan Cawagub DKI Sandiaga Uno yang memicu romantisme Prabowo dengan Titiek ini terjadi.

Prabowo membawa Partai Gerindra mengusung Anies-Sandi di Pilgub DKI 2017. Rupanya, Titiek 'satu hati' dengan Prabowo soal pemimpin Jakarta. Meski Golkar mendukung Ahok- Djarot, Titiek tak peduli. Putri Presiden kedua Soeharto itu lebih pilih dukung Anies-Sandi seperti Prabowo.

Kisah cinta Prabowo dan Titiek memang selalu menjadi sorotan media. Karena perpisahan keduanya bukan seperti cerai sepasang suami istri pada umumnya. Prabowo dan Titiek terpaksa berpisah akibat panasnya kondisi politik pasca kerusuhan Mei 1998.

Hal ini mulanya terungkap dari unggahan Sandiaga Uno di akun Instagramnya. Bersama Anies-Sandi, Titiek terlihat berpose dengan menunjukkan tiga jari, sebagai ciri khas pasangan Anies-Sandi di Pilgub DKI. Anies pun akui pertemuan antara dirinya, Sandiaga, Prabowo dan Titiek itu. Pertemuan dilakukan di rumah Titiek kawasan Menteng.

"Mbak Titiek bukan orang yang baru kenal, sudah lama. Sebenarnya sudah lama diniatkan hanya karena waktunya enggak bisa sebelum tanggal 15, setelah tanggal 15 Rabu malam baru bisa," kata Anies saat ditemui di kawasan Kepala Gading, Jakarta Utara, Jumat (24/2).

Anies tak menapik dalam agenda makan malam tersebut ada pembicaraan terkait Pilgub DKI Jakarta putaran kedua. Namun Anies mengatakan, pembahasan Pilgub DKI bukan menjadi agenda utama acara silaturahim yang berlangsung selama 2 jam itu. 

"Tentulah, masa enggak ngobrolin pilkada. Tapi itu bukan agenda utama, kalau saya bilang enggak ngobrolin sama sekali bohong lah. Pasti tanya gimana strateginya, gimana ke depannya tapi itu bukan tema utama," ungkap Anies. 

Titiek rela melawan keputusan partai. Karena hal itu, bahkan anggota DPR tersebut rencananya bakal dipanggil oleh Partai Golkar.

"Terkait adnaya dugaan Ibu Titiek Soeharto mendukung Anies Sandi. Sesuai denagan disiplin partai kami perlu mengklarifikasi dulu kepada yang bersangkutan, kami akan meminta penjelasan yang bersangkutan," katanya di Kantor DPP Golkar, Cikini, Jakarta Pusat, Jumat (24/2).

Dia mengungkapkan, nantinya akan ada kebijakan DPP setelah mendengarkan penjelasan dari Titiek Soeharto. Namun, Sekretaris Tim Pemenangan Ahok-Djarot ini mengaku, tidak dapat memastikan sanksi apa yang mungkin akan diberikan kepada mantan istri Prabowo Subianto itu.

"Kita akan selesaikan secara internal. Sudah biasa dinamika politik internal. Kami akan mendapatkan klarifikasi dulu, lalu nanti dibahas dalam rapat internal partai. Tidak bisa mengambil keputusan secara tiba-tiba ada tahapan," tutupnya.
Baca selengkapnya

Thursday, 9 February 2017

JOKOWI ke SBY: JANGAN DI MEDSOS

Menanggapi cuitan SBY di media sosial, Presiden Jokowi menilai semestinya Ketua Umum Partai Demokrat itu membicarakan persoalan tersebut dalam forum tertutup, dan bukan melalui media sosial. 

"Lebih baik apabila semua hal yang berkaitan dengan negara itu dirembuk, dibicarakan dalam forum tertutup," ucap Jokowi di Ambon, Maluku, Rabu (8/2/2017). 

Ia meyakini, bila keluhan SBY disampaikan di forum tertutup, tidak akan menjadi ramai dan menyimpang dari masalah yang dipersoalkan. "Yang lebih baik seperti itu (melalui forum tertutup)," ucap mantan Gubernur DKI jakarta itu. 

Jokowi pun yakin, segala persoalan yang pertanyakan SBY dapat terjawab dengan jelas bila dibahas melalui musyawah dalam forum tertutup.

"Kemudian dicarikan solusi dan disampaikan kepada masyarakat," Jokowi menandaskan. 

(Baca Juga: http://lawanhoak.blogspot.co.id/2017/02/sang-mantan-mendadak-seleb.html)

Dalam salah satu kicauannya, SBY melontarkan pertanyaan untuk Presiden Jokowi dan Kapolri Jenderal Polisi Tito Karnavian.

"Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*," tulis SBY dalam akun Twitter-nya, @SBYudhoyono, Senin (6/2/2017).

Sebagai warga negara, SBY mengaku ingin meminta keadilan. "Saya hanya meminta keadilan. Soal keselamatan jiwa saya, sepenuhnya saya serahkan kpd Allah Swt. *SBY*," tulis SBY.
Baca selengkapnya

Sunday, 5 February 2017

Tokoh NU Kontributor NKRI

Siapa yang tidak mengetahui organisasi islam sekelas Nahdlatul Ulama (NU). Organisasi yang lahir pada tahun 1926 ini semakin lama semakin banyak saja pengikutnya. Meskupun tergolong organisasi yang ‘sepuh’ namun NU masih memiliki pengaruh yang besar bagi Indonesia. Pengaruh NU tersebut tentunya bukan hanya ada saat kepemimpinan K.H. Hasyim Asy’ari saja, karena hampir semua petinggi NU memiliki peran besar pada masanya.
Bila kita menyebut nama Abdurrahman Wahid, tentu saja sudah tidak dapat dielakkan lagi pengaruh besarnya. Namun tahukah kamu siapa saja nama lain dari NU yang berjasa bagi Indonesia? Mungkin hanya sedikit yang bisa menjawab pertanyaan ini ya karena sepertinya memang hanya dua nama tadi yang sering disebut. Nah di bawah ini ada lima tokoh NU yang menorehkan jasa untuk Indonesia yang dilansir dari berbagai sumber.
KH Idham Chalid
Dr. KH. Idham Chalid merupakan sosok yang memulai karirnya di NU sejak tahun 1952 dengan aktif di Gerakan Pemuda Ansor (organisasi kepemudaan di bawah NU). Tokoh kelahiran Kalimantan Selatan ini memiliki karir politik yang sangat cemerlang, antara lain beliau pernah menjabat sebagai Menteri Kesejahteraan Rakyat dan Menteri Sosial di era Soeharto.Beliau juga pernah menjadi ketua DPR, MPR, DPA, serta wakil perdana menteri II pada Kabinet Ali Sastroamidjojo.


KH Idham Chalid juga dikenal akan kefasihannya berbicara menggunakan berbagai macam bahasa, salah satunya Jepang. Karena itulah kemudian pihak Jepang sering memintanya untuk jadi penerjemah dalam pertemuan dengan ulama. Karena sepak terjangnya di dunia politik Indinesia itu, beliau diangkat menjadi pahlawan nasional Indonesia pada 2011 lalu.
KH Moh Tolhah Mansoer
Para sarjana hukum pasti tidak asing dengan nama ulama yang satu ini. KH Moh Tolhah Mansoer merupakanan tokoh NU yang juga disebut sebagai ahli hukum tata negara di Indonesia. Kyai Tolhah merupakan sosok yang berani menyuarakan adanya hal yang tidak beres dalam sistem tata negara Indonesia pasca dikumandangkannya proklamasi.
Cara Tolhah menyuarakan hal tersebut adalah melalui disertasinya yang berjudul “Pembahasan Beberapa Aspek tentang Kekuasaan-Kekuasaan Eksekutif dan Legislatif Negara Indonesia”. Sampai saat ini karya-karya Tolhah menjadi rujukan bagi banyak ahli hukum tata negara lainnya. hal tersebut dikarenakan karya Tolhah yang selalu dilahirkan di tengah gelombang liberalisasi dan otoritarianisme eksekutif di Indonesia.
Asa Bafaqih
Bila Kyai Tolhah dikenal sebagai ahli hukum tata negara Indonesia, Asa Bafaqih ini dikenal sebagai wartawan sekaligus diplomat yang jadi andalan Indonesia. Pria yang juga dikenal dengan nama panggilan Wan Asa ini merupakan salah satu jurnalis untuk media Nahdatul Ulama yang pernah menjadi pimpinan redaksi Antara.
Pada masa kemerdekaan Indonesia, Wan Asa diberi kepercayaan oleh Adam Malik untuk menyisipkan berita tentang kemerdekaan Indonesia dalam kantor berita Jepang yang bernama Domei (sebelum berganti nama menjadi Antara). Pada masa pemerintahan Presiden Soekarno, Asa Bafaqih diangkat menjadi duta besar di Srilangka yang dinilai sukses oleh banyak orang.

KH R. As’ad Syamsul Arifin

Kyai As’ad Syamsul Arifin ini pernah menjadi Dewan Penasihat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama hingga akhir hayat.  Kyai As’ad juga memiliki darah bangsawan yang diwariskan dari kedua orang tuanya yang masih keturunan dari Sunan Ampel dan Sunan Kudus. Beliau baru saja diberi gelar sebagai pahlawan nasional Indonesia tahun lalu oleh Presiden Jokowi.

Gelar tersebut diberikan kepada KH R. As’ad Syamsul Arifin atas keberaniannya mengusir penjajah yang sempat menguasai daerah Tapal Kuda. Saat masa penjajahan, beliau mampu mengorganisir kelompok bandit di daerah Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Bondowoso, Situbondo, Jember, dan Banyuwangi untuk diajak berjuang sampai akhirnya para penjajah di daerah tersebut mundur.
KH Saleh Lateng
Banyuwangi juga memiliki sosok kyai yang berjasa bagi pembangunan Indonesia saat jaman pertama kemerdekaan. KH Saleh Lateng dikenal karena keberaniannya memimpin pasukan laskar rakyat saat penyerbuan terbuka ke di Surabaya. Nama KH Saleh Lateng juga tidak bisa dipisahkan dari proses pembangunan kementrian agama di Indonesia.

Saat proses berdirinya NKRI, KH. Wahid Hasyim selaku menteri agama Republik Indonesia yang pertama mencari kitab yang akan digunakan untuk pedoman pembentukan kementrian agama. Kitab yang dicari tersebut ternyata disimpan oleh KH Salet Lateng, dan mendengar kabar tersebut beliau memberikannya pada KH. Wahid Hasyim.
KH Idham Chalid, KH Tolhah Mansoer, Asa Bafaqih, KH R. As’ad Syamsul Arifin, dan KH Saleh Lateng adalah beberapa tokoh Nahdlatul Ulama yang sudah memberikan sumbangsih bagi bangsa Indonesia namun kurang begitu dikenal oleh masyarakat Indonesia secara luas. Bagaimana dengan kalian? Apakah termasuk orang yang peduli dengan sejarah atau malah sebaliknya?. (Sumber www.bombastis.com)
Baca selengkapnya

Friday, 3 February 2017

ANIES TERBITKAN BUKU



Seorang penulis bernama Muhammad Husnil resmi meluncurkan buku biografi Anies Baswedan. Buku setebal 272 halaman dengan judul 'Ketika Anies Baswedan Memimpin' itu mengupas sepak terjang Anies sejak masa kanak-kanak hingga menjabat Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Indonesia.

Anies berharap dengan diluncurkannya buku itu, semua pihak yang mempertanyakan prestasi atau pencapaiannya selama ini bisa terjawab. Bukan hanya saat duduk di kursi Kemendikbud melainkan rekam jejak kepemimpinannya semasa muda.

"Mudah-mudahan ini bisa membantu siapapun yang ingin tahu lebih jauh," kata Anies di Gramedia, Jakarta, Jumat (3/2).

Selain itu, calon Gubernur DKI Jakarta nomor urut tiga ini juga berharap buku tersebut dapat memberi kontribusi yang positif bagi semua orang. Dalam buku itu, dipaparkan secara lengkap berbagai prestasi yang pernah diraih mantan rektor Universitas Paramadina tersebut.

Pada kesempatan itu, Anies memuji gaya tulisan Husnil dalam bukut tersebut. Apalagi, menurutnya isi buku didapat dari berbagai data dan sumber. Dengan adanya buku itu, Anies berharap warga Jakarta bisa lebih yakin dengan kemampuannya dalam memimpin.

"Saya tahu beliau seorang penulis yang gaya menulisnya seperti jurnalis karena seluruh fakta diverifikasi tapi style penulisannya sastrawi. Jadi jurnalistik sastrawi," ujarnya.

Sementara Husnil mengungkapkan jika buku itu dibuat berdasarkan data dan sumber yang akurat. Dia sengaja tidak menggunakan Anies sebagai sumber agar semua informasi dalam buku akurat.

"Data itu bisa dikonfirmasi ulang, bisa diverifikasi ulang. Kami melalui proses verifikasi ketat, data yang kami tampilkan insya Allah akurat," pungkas Husnil. (sumber https://www.merdeka.com/politik/jelang-pilkada-buku-ketika-anies-baswedan-memimpin-diterbitkan.html)
Baca selengkapnya

IPPHO SANTOSA: SAYA SREG SAMA AHOK, DULU!!

Dulu saya sempat sreg dengan 1-2 program beliau. Sampai-sampai saya retwit di Twitter. Di Facebook sempat juga saya memuji keharmonisan beliau bersama istri. Tapi saya langsung tersadarkan begitu mencuat kasus Sumber Waras, reklamasi, dan Al-Maidah. Waduh, waduh! Ternyata bukan saja korup perangainya tapi juga kotor mulutnya.
Saya sulit membayangkan, bagaimana mungkin seorang terdakwa bisa menghardik dan mengancam ketua MUI yang juga petinggi NU, ormas Islam terbesar di negeri ini. Dan satu hal lagi, ulama yang sudah berusia 70-an ini dicecar selama 7 jam. Beradabkah? Manusiawikah?
Sepertinya sudah tabiat, ia gemar sekali menghina. Pokoknya hina dulu, maaf kemudian. Itu pun kalau diprotes. Ia pernah menghina kitab suci orang lain dan kemudian di Al-Jazeera ia mengaku tidak menyesal sama sekali. Ia pernah menyebut agamanya sendiri konyol. Ya, konyol. Ia pernah berjanji akan melawan Tuhan kalau Tuhan ngaco.
Soal hina-menghina, ia tidak berhenti sampai di situ saja. Ia juga pernah menghina profesi dosen, profesi dokter, parpol, dan dewan. Bahkan korban penggusuran, dia hina dan dia anggap cuma akting seperti artis sinetron. Di depan umum, ia pun pernah menuduh seorang ibu-ibu sebagai maling yang kemudian terbukti tuduhan itu 100% keliru.
Di media Detik, dia pernah keceplosan bahwa ayahnya ikut Belanda. Saya tak mau menghina fakta itu. Tapi anehnya, kok dia membanggakan fakta itu. Sampai saat ini, pendukung-pendukungnya masih bingung atas 'kebanggaan semu' itu. Sementara, teman-teman saya dengan berbagai latar belakang suku dan agama menganggap dia benar-benar benalu bagi persatuan bangsa Indonesia.
"Ah, itu cuma kata-kata. Yang penting kan kerjanya bagus," kilah segelintir orang. Sahabat saya langsung mematahkan alasan ini, "Lha menurut audit BPK, si tokoh ini bermasalah sekian miliar untuk kasus Sumber Waras. Ingat ya, prestasi BPK diakui oleh PBB dan diizinkan berkantor di Austria."
Belum lagi kasus gedung kedubes senilai hampir setengah triliun yang hampir-hampir saja dia beli, padahal tidak perlu dibeli sama sekali. Wong tanah milik sendiri, ngapain dibeli? Ini diberitakan di Kompas. Terus, soal reklamasi, siapa yang diuntungkan? Jelas, yang diuntungkan adalah developer dan investor. Yang dirugikan? Ribuan nelayan yang selama ini menggantungkan hidupnya di sana.
Kalau saya mau play safe, tak perlulah saya menulis artikel seperti ini. Kebanyakan orang kan begitu. Takut periuk nasinya tumpah. Menurut saya, untuk hal-hal prinsip, kita harus bersuara. Nggak boleh diam. Kalaupun fans unfollow dan unlike, itu biasa. Kalaupun job berkurang, itu resiko. Toh Allah yang menjamin rezeki kita, bukan makhluk.
Btw, ini semua terjadi di negeri antah-berantah. Jadi, boleh di-share seluas-luasnya agar tak terjadi di negeri ini. Sekian dari saya, Ippho Santosa. (sumber fan page facebook ippho santosa & tim khalifa)
Baca selengkapnya