Showing posts with label Unik. Show all posts
Showing posts with label Unik. Show all posts

Thursday, 9 February 2017

Keren!! Plastik Ini Bisa di Minum

Apa yang ada dibenak anda ketika bicara tentang plastik. Tentu salah satunya adalah benda yang tidak dapat diurai oleh tanah. Nah berikut ini adalah Avani Esco. Plastik hasil kreatifitas anak negeri ini bisa larut dalam air. WOW KEREN!!

Ini plastik Avani Eco yang bisa larut dalam air dan aman diminum. Kevin Kumala mengatakan plastik ciptaannya tersebut terbuat dari singkong sehingga mudah terurai.



























Kevin Kumala. Pembuat plastik ini mengatakan plastik ciptaannya tersebut terbuat dari singkong sehingga mudah terurai.
























Selain kantong plastik, Avani Eco juga membuat jas hujan, sedotan, dan alat makan dari kayu.


Avani Eco saat membuktikan kantong plastik yang dapat larut dalam air.
























Berinat mencobanya kawan-kawan. Hehehee (sumber merdeka.com)
Baca selengkapnya

Wednesday, 8 February 2017

Negara Ini Menutup Penjara


Jika di Brasil dan beberapa negera terjadi kerusuhan hingga baku bunuh antar narapidana. Hingga Pemerintah sampai kewalahan dan perlu mengerahkan pasukan polisi dan militer buat mengatasi kerusuhan. Penjara di Brasil sudah sedemikian padat ditambah peregesekan antargeng kerap memanas hingga saling bunuh.

Lain pula yang terjadi di Belanda. Di Negeri Kincir Angin ini sejumlah penjara justru ditutup lantaran pelaku kriminal terlalu sedikit sehingga hanya segelintir orang yang dijebloskan ke penjara.

Sepanjang tahun lalu sudah lima penjara ditutup setelah sebelumnya ada 19 yang ditutup pada 2014 dan delapan di 2009.

Koran the Independent melaporkan, Rabu (8/2), tingkat kejahatan di Belanda turun sekitar 0,9 persen tiap tahun. Para hakim juga biasanya memberikan hukuman singkat bagi pelaku kejahatan.

Itu berarti pada 2021 nanti akan ada 3.000 sel kosong dan 300 penjara anak-anak yang tidak lagi beroperasi.

Koran the Guardian melaporkan, Norwegia bahkan mengirim pelaku kejahatan untuk dipenjara di Belanda karena rumah tahanan di sana sudah terlalu penuh.
Baca selengkapnya

Sunday, 5 February 2017

Mengenal Latte Factor, Si Pembuat Bokek


Rebecca Bloomwood bekerja sebagai wartawan untuk sebuah majalah tentang berkebun. Namun, ia punya mimpi menjadi wartawan majalah fashion bernama Alette. Mimpi itu hampir terwujud, Rebecca mendapat panggilan wawancara.

Dalam perjalanan menuju kantor redaksi Alette, ia terkesima melihat syal berwarna hijau dan ingin membelinya. Tetapi sayang, kartu kreditnya ditolak. Tak putus asa, Rebecca berjalan ke gerai hot dog dan menawarkan untuk membeli semua hot dog dengan cek. Tetapi, si penjual harus memberikan kembalian dalam bentuk uang tunai. Rebecca berbohong, mengatakan syal itu akan menjadi hadiah bagi bibinya yang sakit. 

Rebecca adalah tokoh fiksi dalam The Confession of a Shopaholic, novel karangan Sophie Kinsella yang kemudian difilmkan. Rebecca digambarkan sebagai seorang perempuan gila belanja yang punya banyak utang. Rebecca kerap membeli apa-apa yang tidak ia butuhkan.
Meski hanya tokoh fiksi, Rebecca tampak seperti contoh nyata, betapa membeli apa-apa yang tak diperlukan akan membawa kita pada kebangkrutan. Rebecca adalah contoh yang paripurna. Di kehidupan nyata, ada banyak pengeluaran yang sebenarnya bisa dihemat, tetapi tidak kita lakukan. Pengeluaran itu kadang tampak kecil, tetapi jika diakumulasikan, jumlahnya bisa sampai dobel digit. 

David Bach, seorang penulis sekaligus motivator keuangan di Amerika Serikat mencetuskan istilah latte factor untuk pengeluaran-pengeluaran itu. Latte factor mengacu pada pengeluaran kecil yang sifatnya rutin, tetapi sebenarnya tidak terlalu penting dan bisa ditiadakan. Istilah latte diambil Bach dari secangkir kopi. Menurutnya, kopi, adalah pengeluaran skala kecil yang jika dijumlahkan dalam sebulan, totalnya bisa lebih besar dari biaya listrik dan air.

Jika setiap pagi seorang pekerja memiliki kebiasaan membeli kopi di coffee shop, katakanlah harga rata-ratanya Rp30 ribu. Dalam 30 hari, ia menghabiskan Rp900 ribu hanya untuk kopi. Meminimalkan latte factor bukan berarti melarang orang minum kopi. Para pecinta kopi bisa membeli bubuk kopi dan menyeduhnya sendiri, cara ini tentu lebih hemat.

Latte factor tak hanya berwujud kopi, ia bisa macam-macam, mulai dari biaya membeli air mineral kemasan, belanja cemilan, hingga biaya transfer antar bank. Setiap orang memiliki latte factor-nya masing-masing.

Survei internal yang dilakukan Bank Permata menunjukkan 9 dari 10 orang menggelontorkan lebih dari Rp900 ribu untuk latte factor setiap bulannya. Pengeluaran latte factor terbesar adalah pada kebutuhan sandang yang sekunder, seperti lipstik, sepatu dan baju—hanya untuk menambah koleksi, tas, syal, aksesori, dan lainnya. Angkanya mencapai 58 persen. 

Pengeluaran terbesar kedua tercatat pada taksi atau transportasi online yang mencapai 15 persen. Ini adalah jenis pengeluaran yang bisa dihemat jika menggunakan kendaraan umum massa seperti kereta atau bus. 

Lalu ada biaya membeli makanan dan minuman ringan yang mencapai 11 persen. Sementara untuk kopi setiap pagi menghabiskan 9 persen dari total pengeluaran latte factor masing-masing responden. Ada pula biaya untuk membeli air mineral, rokok, hingga biaya administrasi bank.
Psikolog Ajeng Raviando menjelaskan tren ini kebanyakan menjangkiti generasi milenial. Ini karena generasi milenial sudah dimanjakan dengan kecanggihan teknologi sejak mereka kecil. Memasak nasi tak perlu pakai periuk, tren remote control, lalu diikuti dengan perkembangan gadget.

“Akibatnya, mereka kerap mengeluarkan uang untuk sekadar memuaskan nafsu atau mengikuti tren yang sedang berlangsung,” katanya.

Ajeng menjelaskan, latte factor muncul karena beberapa alasan. Bisa jadi karena kebiasaan, bisa juga karena impulsive buying atau karena tekanan dari lingkungan. Jika setiap pagi seseorang membeli kopi di kedai kopi dekat kantor, maka secara tidak sadar ia akan selalu mampir ke kedai tersebut tanpa berpikir panjang lagi. Atau ketika teman-teman sebayanya mengajak untuk nongkrong di coffee shop mahal, maka ia akan mengikuti demi menjaga pertemanan.

Hal itu diamini oleh Hamish Daud, seorang model dan presenter. “Dulu saya sering sekali makan di restoran mewah dan belanja yang tidak terlalu penting. Tanpa disadari, pengeluaran untuk hal tersebut membengkak,” ungkapnya. 

Sementara itu, kesadaran masyarakat untuk menyisihkan uang dari penghasilan masih sangat rendah. Survei bertajuk ‘Share of Wallet’ oleh Kadence International Indonesia menunjukkan masyarakat di Indonesia hanya menyisihkan rata-rata 8% dari penghasilannya untuk tabungan. 
Apabila pengeluaran untuk latte factor ini bisa dikontrol dan diminimalkan, tentu ada potensi dana yang bisa ditabung atau bahkan diinvestasikan. 

sumber: https://tirto.id/latte-factor-pengeluaran-kecil-yang-membuat-bokek-cilW
Baca selengkapnya

Friday, 3 February 2017

Mobil Diderek, Pria Ini Bakar Mobilnya


Mobil Carry pelat nomor A 1946 FS terbakar di Jalan Paseban Raya,Jakarta Pusat, sekitar pukul 10.00 WIB, Jumat (3/2). Apa penyebabnya??

"Dia (pemilik) enggak terima mobilnya diderek oleh petugas. Karena setiap hari kita selalu rutin melakukan tugas melihat mobil yang parkir sembarangan," ujar Kepala Suku Dinas Harlem simanjuntak ketika dihubungi merdeka.com.
Harlem menceritakan, kejadian bermula saat petugas menderek beberapa kendaraan yang parkir di sekitar Paseban. Saat menderek mobil Carry tersebut, tiba-tiba seorang pria berinisial M datang mengamuk lalu membakar kendaraannya sendiri.
"Awalnya pakai kaos kaki dia bakar, merembet kena mantel di dalam mobil hingga terbakar hangus. Mobilnya emang sudah tua. Mobilnya sudah bergeser, sudah diderek," katanya.
"Pemiliknya biasa, tidak kelihatan mabuk, rapi kok orangnya," sambungnya.
Harlem mengatakan, berdasarkan informasi yang diperolehnya, pemilik kendaraan itu memang selalu memarkirkan di badan jalan. "Rumahnya itu masuk gang, jadi kalau dari orang kelurahan selalu parkir di sana," ujarnya.
"(Kena pidana?) Nanti polisi lah yang menindak. Tapi saat ini mobilnya sudah di Polres untuk sebagai barang bukti," ucapnya. (sumber merdeka.com)
Baca selengkapnya